Jumat, 30 November 2007

Diskusi Bareng Taufiq Ismail Di Rumah Dunia

Jangan Takut Menulis
Siang itu, Sabtu (17/11) rumah dunia ramai dikunjungi orang-orang. Ada pelajar, mahasiswa, dosen, bahkan budayawan asal Serang pun ikut hadir buat ngikutin diskusi yang dihadiri sastrawan kenamaan Taufiq Ismail. Diskusi kali ini mengupas seputar proses kreatif dan kepengarangan dari sastrawan besar negeri ini, salah satunya adalah Taufiq Ismail sendiri.
Acara di awali dengan pembacaan beberapa puisi oleh Taufiq seperti, ‘Sajadah Panjang’, ‘Dengan Puisi Aku’, ‘Cahaya Di Atas Cahaya’. Pembacaan pusisi yang penuh penghayatan, membuat suasana hening, seakan terpukau oleh sastrawan yang lahir di Bukit Tinggi 1935.
Acara yang domoderatori Wan Anwar ini berlangsung interaktif ketika Taufiq membagi pengalamann dan suka duka ketika ia pertama kali menulis, hingga menghasilkan karya-karya puisi yang baik untuk negeri ini. Dalam paparannya Taufiq bilang, bahwa jangan takut untuk mulai menulis. “Menulis bisa dimulai sejak dini, mulailah menulis apa saja, karena secara tidak sadar baik di sekolah, kampus atau kegiatan sehari-hari kita sudah melakukan proses menulis,” urainya.
Ditambahin, puisi yang baik itu adalah yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang indah, bisa menggetarkan dan mengharukan siapa saja yang membaca serta ada pesan yang disampaikan melalui puisi tersebut sehingga bisa menggugah pembacanya.
Diskusi ini dihadiri oleh ratusan orang yang berasal dari pesantren Tarbiyah Nurul Maarif Serang, SMAN 3 Rangkasbitung, STKIP STIA Budi Rangkasbitung, SMP Al-Irsyad Waringinkurung, IAIN, Untirta, dan banyak lagi. Diajeng Lestari, mahasiswi FISIP Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini sengaja dating ke rumah dunia untuk menyaksikan Taufiq Ismail. “Diskusi seperti ini sangat inspiratif, yang bisa membangun peradaban dengan membaca yang memang merupakan tugas besar orang tua, guru dan pemerintah. Serta, dengan adanya kunitas rumah dunia ini ada visi yang besar untuk membangun Banten,” ungkapnya.
(adit)

Tidak ada komentar: