Sabtu, 22 Maret 2008

Roket


Roket merupakan peluru kendali atau pesawat terbang yang menghasilkan dorongan melalui reaksi pembakaran dari mesin roket. Dorongan ini terjadi karena reaksi cepat pembakaran/ledakan dari satu atau lebih bahan bakar yang dibawa dalam roket. Dorongan ini dijelaskan mengikuti Hukum Pergerakan Newton ke 3. Seringkali definisi roket digunakan untuk merujuk kepada mesin roket.
Dalam istilah militer, roket merujuk kepada bahan peledak berpendorong tanpa alat pengendali. Roket ini bisa diluncurkan oleh pesawat penyerang darat (roket udara ke permukaan), ditembakkan dari permukaan (darat/laut) ke sasaran di udara (darat ke udara), atau bisa ditembakkan dari permukaan (darat/laut) ke sasaran permukaan yang lain. Ketika era perang Vietnam, terdapat juga roket darat-udara tanpa kendali yang dibuat untuk menyerang pesawat yang terbang dalam formasi. Peluru kendali serupa dengan roket dengan perbedaan sistem kendali untuk memperbesar kemungkinan mengenai sasaran.
Ukuran roket berbeda dari model kecil yang bisa dibeli di toko hobi di negara-negara tertentu, sampai yang berukuran besar Saturn V yang digunakan untuk program Apollo.
Untuk penjelajahan angkasa luar yang tidak terdapat udara maka roket tersebut harus membawa sendiri bahan bakar dan oksigen untuk menghasilkan daya dorong yang diperlukan.
Kebanyakan roket saat ini adalah roket kimia. Mesin roket ini memerlukan bahan bakar padat atau cair, seperti bahan bakar cair Booster/penguat Pesawat ulang-alik dan mesin utamanya yang digunakan untuk melepaskan diri dari gravitasi bumi. Reaksi kimia dimuali di ruang bakar dengan bahan bakar (dengan udara atau oksigen bila di ruang angkasa) dan gas panas yang dihasilkan mengalir dengan tekanan tinggi keluar melalui saluran yang menuju ke arah belakang roket. Tekanan gas yang menyembur keluar inilah yang menghasilkan gaya dorong bagi roket sehingga roket dapat bergerak maju atau ke atas.
Terdapat konsep jenis roket lain yang semakin sering digunakan di luar angkasa adalah pendorong ion, yang menggunakan energi elektromagnet bukan tenaga dari reaksi kimia. Roket terminal nuklir juga telah dibangun, tetapi tidak pernah digunakan.
Dalam sejarah, roket pertama dibuat oleh China sekitar 300 S.M., menggunakan mesiu. Pada mulanya digunakan untuk kepentingan hiburan/keagamaan (untuk menghalau hantu setan), dengan bentuk petasan, tetapi kemudian digunakan dalam peperangan pada abad ke 11. Peranan roket dalam peperangan intens digunakan pada pihak Eropa ketika Kerajaan Usman. Selama beberapa abad roket tetap menjadi misteri di dunia Barat.
Pada akhir abad ke 18, roket digunakan dalam peperangan di India melawan Inggris, yang mengambil dan memajukannya lebih lanjut pada abad ke 19. Tokoh utama dalam bidang roket ketika ini adalah William Congreve. Dari situ, penggunan roket ketentaraan merebak ke seluruh Eropa. Cahaya merah roket memberi inspirasi kepada lagu kebangsaan US, The Star-Spangled Banner.
Roket ketika itu amat tidak efisien. Roket modern bermula ketika Robert Goddard meletakkan corong de Laval pada kamar pembakaran mesin roket, menggandakan daya dorong dan meningkatkan efisiensi, membuka kemungkinan kepada perjalanan vertikal ke angkasa. Teknik ini kemudiannya digunakan pada roket V-2, dirancang oleh Wernher Von Braun yang menjadi pemain utama dalam memajukan roket modern. V2 digunakan secara luas oleh Adolf Hitler dalam fase akhir Perang Dunia II sebagai senjata teror kepada penduduk Inggris, setiap peluncuran yang berhasil menjulang tinggi ke angkasa menandai awal Zaman Angkasa. (adit-wikipedia)

Sabtu, 08 Maret 2008

Pramoedya Ananta Toer


Novelis yang Legendaris

Ia dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 oleh seorang ibu yang memberikan pengaruh kuat dalam pertumbuhannya sebagai individu. Pramoedya mengatakan bahwa semua yang tertulis dalam bukunya terinspirasi oleh ibunya. Karakter kuat seorang perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, seorang pribadi yang tak ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu sedikitpun. Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia melihat revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan – ibunya. Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya masih berumur 17 tahun.
Setelah ibunya meninggal, Pramoedya dan adiknya meninggalkan rumah keluarga lalu menetap di Jakarta. Pramoedya masuk ke Radio Vakschool, di sini ia dilatih menjadi operator radio yang ia ikuti hingga selesai, namun ketika Jepang datang menduduki, ia tidak pernah menerima sertifikat kelulusannya. Pramoedya bersekolah hingga kelas 2 di Taman Dewasa, sambil bekerja di Kantor Berita Jepang Domei. Ia belajar mengetik lalu bekerja sebagai stenografer, lalu jurnalis.
Ia menulis novel pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara Belanda (1947-1949). Setelah Indonesia merdeka, tahun 1949, Pramoedya menghasilkan beberapa novel dan cerita singkat yang membangun reputasinya. Novel Keluarga Gerilya (1950) menceritakan sejarah tentang konsekuensi tragis dari menduanya simpati politik dalam keluarga Jawa selama revolusi melawan pemerintahan Belanda.
Cerita-cerita singkat yang dikumpulkan dalam Subuh (1950) dan Pertjikan Revolusi (1950) ditulis semasa revolusi, sementara Tjerita dari Blora (1952) menggambarkan kehidupan daerah Jawa ketika Belanda masih memerintah. Sketsa dalam Tjerita dari Djakarta (1957) menelaah ketegangan dan ketidakadilan yang Pramoedya rasakan dalam masyarakat Indonesia setelah merdeka. Dalam karya-karya awalnya ini, Pramoedya mengembangkan gaya prosa yang kaya akan bahasa Jawa sehari-hari dan gambar-gambar dari budaya Jawa Klasik.
Kini belasan bukunya sudah diterjemahkan lebih dari 30 puluh bahasa termasuk Belanda, Jerman, Jepang, Rusia dan Inggris. Karena prestasinya inilah ia dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time dan telah memperoleh berrbagai penghargaan seperti PEN Freedom-to-Write Award, Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award (dinilai dengan brilyan menonjolkan kebangkitan dan pengalaman moderen rakyat Indonesia).
Novel-novel sejarah yang dibuat oleh Pramoedya mengungkap sejarah yang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah, yang kebanyakan jauh dari kenyataan. Seperti Nelson Mandela, ia menolak untuk memaafkan pemerintah yang telah mengambil banyak hal dalam kehidupannya. Ia khawatir bila ia mudah memaafkan, sejarah akan segera dilupakan. Ia menekankan pentingnya mengetahui sejarah seseorang sehingga orang lain tidak mengulangi kesalahan yang sama di tahun-tahun yang akan datang.
Pramoedya juga menyukai karya sastrawan lain seperti Leo Tolstoy, Anton Chekov, atau John Steinbeck. Kekagumannya pada gaya bercerita Steinbeck yang detail juga mempengaruhinya dalam menulis. Namun, Pramoedya tidak suka dengan karya Ernest Hemingway, yang dianggapnya tidak manusiawi.
Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia di usianya yang ke-81 tahun pada Minggu 30 April 2006 sekitar pukul 08.30 WIB di rumahnya Jl Multikarya II No.26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Sang Pujangga kelahiran Blora 6 Februari 1925 yang dipanggil Pram dan terkenal dengan karya Tetralogi Bumi Manusia, itu dimakamkan di TPU Karet Bivak pukul 15.00, Minggu 30/4. Sebelumnya, dia dirawat di ICU RS St Carolus Jakarta. Kemudian sejak Sabtu sekitar pukul 19.00 WIB dia meminta pulang dan dokter mengizinkan. Sastrawan yang oleh dunia internasional, sebagaimana ditulis Los Angeles Time, sering dijuluki Albert Camus Indonesia itu termasuk dalam 100 pengarang dunia yang karyanya harus dibaca sejajar dengan John Steinbejk, Graham Greene dan Bertolt Berecht. (adit– dari berbagai sumber)

Sabtu, 01 Maret 2008

Elegi di Taman Sari



Wajah Suram Jantung Kota Serang
Begitu mendengar nama Taman Sari, orang akan membayangkan sebuah taman yang indah dan asri. Dipenuhi pepohonan dan kicau burung. Namun tidak demikian dengan Taman Sari di Kota Serang. Taman itu kumuh dan tidak terawat. Bahkan, salah satu ikon Kota Serang ini hanya dijadikan tempat mangkal truk, pedagang, dan lainnya. Sama sekali jauh dari kesan asri dan indah. Padahal, Taman Sari berada di jantung kota. Masyarakat dari luar kota yang datang menggunakan kereta api pasti melihat dan melewati Taman Sari.

ADIT – ISA – SERANG
Siang itu sekitar pukul 14.30 Stasiun Kereta Api Serang yang biasa disebut Stasiun Taman Sari, menunjukan aktivitasnya. Begitu ramai. Pedagang asongan sibuk menawarkan dagangannya kepada para penumpang yang sedang menunggu kedatangan kereta. Pasalnya, hari itu masih ada kereta terakhir tujuan Tanah Abang yang akan tiba pukul 15.00 WIB.
Stasiun warisan kolonial Belanda yang dibangun pada 20 Desember 1900 itu tidak pernah sepi. Dari pagi hingga sore, para penumpang dengan berbagi profesi datang dan pergi silih berganti. Tepat pukul 15.00 WIB si Kuda Besi pun tiba. Ada yang turun, ada pula yang naik. Seiring beranjaknya waktu, suasana stasiun pun mulai lengang.
Itu hanya salah satu aktivitas yang biasa ditemui setiap harinya di kawasan Taman Sari, sebuah kawasan strategis yang dapat ditempuh dari berbagi arah. Jika hendak ke pusat perbelanjaan Royal, kita pasti melintasi kawasan ini. Begitu pun jika hendak ke Pasar Rau. Dengan rute dari Cipare kita akan menjumpai kawasan yang terdapat patung perjuangan masyarakat Serang ketika melawan penjajah. Sayangnya, kawasan Taman Sari terlihat kumuh.
Meskipun demikian, Taman Sari merupakan kawasan yang banyak memberikan penghidupan bagi masyarakat untuk mengais rezeki. Tengok saja di sebelah timur Taman Sari, di situ berjejer kios-kios yang menjual berbagi jenis ikan, terutama ikan hias dan segala perlengkapannya. Sekitar 10 kios ikan menjual berbagi jenis ikan, mulai ikan yang berukuran sangat kecil sampai yang seukuran paha orang dewasa.
Andri, salah satu penjual ikan menuturkan, ikan-ikan itu didatangkan dari Sukabumi, Bogor dan Bandung. Ikan yang dijual pun jenisnya beragam, seperti ikan mas, lele, nila, tambak, patin, koi, cupang, dan lainnya.
"Sebelum di sini saya jualan di daerah Cipocok Jaya. Saya pindah karena penghasilannya jauh lebih baik. Ramenya waktu week end sama hari libur. Satu hari penghasilan bisa satu juta lebih. Kalo hari-hari bisa paling cuma dapet 400-500 ribuan. Di sini tuh tempatnya enak dan nyaman," tutur Andri.
Andri merupakan salah satu pedagang ikan hias yang mencari petruntungan di kawasan Taman Sari. Dibanding pedagang ikan lainnya, Andri memiliki koleksi ikan yang cukup membuat orang tertegun. Pasalnya, ia memiliki ikan koi yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan sejenis lainnya, atau bisa dikatakan raksasa. Namun selama ini belum ada pembeli tertarik membeli. Barangkali harganya terlalu mahal.
"Tapi kayaknya itu nggak berlaku buat orang yang hobi koleksi ikan. Kalo udah suka mah, harga berapa aja jadi," tambah Andri yang membantu usaha kakaknya tersebut.
Setiap pagi para pedagang kakilima juga menggelar dagangannya di sekitar Taman Sari. Mereka menggelar dagangannya di tengah jalan, bahkan sampai pinggir rel kereta api. Hal tersebut tentu menimbulkan kemacetan pada terutama di pagi hari.
Perlu diketahui, sejak tahun 70-an, Taman Sari dijadikan terminal angkutan luar kota. Seluruh angkutan dari Pandeglang, Cilegon, Merak, Tangerang, dan Jakarta mangkal di Taman Sari. Namun pada pertengahan 70-an, Taman Sari berubah fungsi. Saat itu, lokasi yang sekarang di jadikan taman dipenuhi warem alias warung remang-remang. Namun pada tahun 90-an, Pemkab Serang mengubah kawasan menjadi sebuah taman. Sayangnya, taman itu kini terkesan kumuh dan acak-acakan. Kawasan ini pun kini dijadikan pangkalan truk-truk pengangkut barang dan pasar pagi. Di tengah taman terdapat sebuah patung yang menggambarkan perjuangan para pejuang di Serang melawan penjajah. Namun, pembuatannya terkesan belum selesai.
Sumardi, mengaku setiap hari memangkalkan truknya di tempat ini sambil menunggu ada orang yang mau menyewanya. "Biasanya truk disewa untuk mengangkut pasir, batu, hasil kebun dan sebagainya," papar pria warga Sumur Pecung ini.
Sumardi yang ditemui seusai membersihkan truknya, setiap hari membayar retribusi sebesar Rp 2.000 kepada dinas ketertiban. "Di sini hampir enam puluhan truk yang mangkal, dan mereka semua membayar retribusi yang sama. Ya kita nurut saja, daripada nggak boleh mangkal disini," ujarnya.
Begitu pun dengan para pengemudi taksi, yang memarkirkan kendaraannya di tempat ini untuk menunggu penumpang. Bahkan para tukang becak sesekali juga terlihat memasuki kawasan ini untuk memandikan becaknya dengan air dari kali yang melintas. Seperti yang dilakukan Syafei, setiap hari menjelang sore ia selalu ke Taman Sari untuk memandikan becaknya karena kotor setelah dari pagi dipakai untuk mengais rezeki.
Sementara musholla yang terdapat di tengah taman, lebih banyak digunakan para pedagang untuk tempat beristirahat dan menikamati tidur siang, layaknya di sebuah penginapan. Sedangkan kali yang membentang melintasi taman seolah menjadi WC terbuka bagi banyak orang untuk membuang hajat atau pun buang air kecil, serta menjadi tempat anak-anak kecil berenang layaknya di kolam renang. Karenanya, tak ayal ketika kita memasuki tempat ini segera tercium bau pesing yang menusuk hidung.
Belum lagi gerobak-gerobak para pedagang yang biasa berjualan pada malam hari, ikut ditaruh di tempat ini. Trotoar yang berada di luar Taman Sari pun tak luput dari para pedagang, seperti pedagang rambutan, kelinci, pecel lele, sate bebek dan beragam pedagang lainnya.
Sore hari tempat ini ramai didatangi warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Ada yang bermain bola, bermain layang-layang, atau hanya untuk sekadar nongkrong. Ada juga orang tua yang sengaja berjalan-jalan sore menikmati kawasan ini sambil membawa anak.
Ironis memang, Taman Sari yang berdiri persis di samping kantor Dinas Ketertiban dan Ketentraman, tapi terlihat begitu tidak terawat. Sangat kotor dan semrawut. Pemerintah dan dinas yang terkait seolah tutup mata terhadap tempat ini. Padahal jika lebih ditata dengan baik, Taman Sari bisa dijadikan ruang publik yang indah, aman, dan nyaman bagi siapa pun.(*)