Wajah Suram Jantung Kota Serang
Begitu mendengar nama Taman Sari, orang akan membayangkan sebuah taman yang indah dan asri. Dipenuhi pepohonan dan kicau burung. Namun tidak demikian dengan Taman Sari di Kota Serang. Taman itu kumuh dan tidak terawat. Bahkan, salah satu ikon Kota Serang ini hanya dijadikan tempat mangkal truk, pedagang, dan lainnya. Sama sekali jauh dari kesan asri dan indah. Padahal, Taman Sari berada di jantung kota. Masyarakat dari luar kota yang datang menggunakan kereta api pasti melihat dan melewati Taman Sari.
ADIT – ISA – SERANG
Siang itu sekitar pukul 14.30 Stasiun Kereta Api Serang yang biasa disebut Stasiun Taman Sari, menunjukan aktivitasnya. Begitu ramai. Pedagang asongan sibuk menawarkan dagangannya kepada para penumpang yang sedang menunggu kedatangan kereta. Pasalnya, hari itu masih ada kereta terakhir tujuan Tanah Abang yang akan tiba pukul 15.00 WIB.
Stasiun warisan kolonial Belanda yang dibangun pada 20 Desember 1900 itu tidak pernah sepi. Dari pagi hingga sore, para penumpang dengan berbagi profesi datang dan pergi silih berganti. Tepat pukul 15.00 WIB si Kuda Besi pun tiba. Ada yang turun, ada pula yang naik. Seiring beranjaknya waktu, suasana stasiun pun mulai lengang.
Itu hanya salah satu aktivitas yang biasa ditemui setiap harinya di kawasan Taman Sari, sebuah kawasan strategis yang dapat ditempuh dari berbagi arah. Jika hendak ke pusat perbelanjaan Royal, kita pasti melintasi kawasan ini. Begitu pun jika hendak ke Pasar Rau. Dengan rute dari Cipare kita akan menjumpai kawasan yang terdapat patung perjuangan masyarakat Serang ketika melawan penjajah. Sayangnya, kawasan Taman Sari terlihat kumuh.
Meskipun demikian, Taman Sari merupakan kawasan yang banyak memberikan penghidupan bagi masyarakat untuk mengais rezeki. Tengok saja di sebelah timur Taman Sari, di situ berjejer kios-kios yang menjual berbagi jenis ikan, terutama ikan hias dan segala perlengkapannya. Sekitar 10 kios ikan menjual berbagi jenis ikan, mulai ikan yang berukuran sangat kecil sampai yang seukuran paha orang dewasa.
Andri, salah satu penjual ikan menuturkan, ikan-ikan itu didatangkan dari Sukabumi, Bogor dan Bandung. Ikan yang dijual pun jenisnya beragam, seperti ikan mas, lele, nila, tambak, patin, koi, cupang, dan lainnya.
"Sebelum di sini saya jualan di daerah Cipocok Jaya. Saya pindah karena penghasilannya jauh lebih baik. Ramenya waktu week end sama hari libur. Satu hari penghasilan bisa satu juta lebih. Kalo hari-hari bisa paling cuma dapet 400-500 ribuan. Di sini tuh tempatnya enak dan nyaman," tutur Andri.
Andri merupakan salah satu pedagang ikan hias yang mencari petruntungan di kawasan Taman Sari. Dibanding pedagang ikan lainnya, Andri memiliki koleksi ikan yang cukup membuat orang tertegun. Pasalnya, ia memiliki ikan koi yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan sejenis lainnya, atau bisa dikatakan raksasa. Namun selama ini belum ada pembeli tertarik membeli. Barangkali harganya terlalu mahal.
"Tapi kayaknya itu nggak berlaku buat orang yang hobi koleksi ikan. Kalo udah suka mah, harga berapa aja jadi," tambah Andri yang membantu usaha kakaknya tersebut.
Setiap pagi para pedagang kakilima juga menggelar dagangannya di sekitar Taman Sari. Mereka menggelar dagangannya di tengah jalan, bahkan sampai pinggir rel kereta api. Hal tersebut tentu menimbulkan kemacetan pada terutama di pagi hari.
Perlu diketahui, sejak tahun 70-an, Taman Sari dijadikan terminal angkutan luar kota. Seluruh angkutan dari Pandeglang, Cilegon, Merak, Tangerang, dan Jakarta mangkal di Taman Sari. Namun pada pertengahan 70-an, Taman Sari berubah fungsi. Saat itu, lokasi yang sekarang di jadikan taman dipenuhi warem alias warung remang-remang. Namun pada tahun 90-an, Pemkab Serang mengubah kawasan menjadi sebuah taman. Sayangnya, taman itu kini terkesan kumuh dan acak-acakan. Kawasan ini pun kini dijadikan pangkalan truk-truk pengangkut barang dan pasar pagi. Di tengah taman terdapat sebuah patung yang menggambarkan perjuangan para pejuang di Serang melawan penjajah. Namun, pembuatannya terkesan belum selesai.
Sumardi, mengaku setiap hari memangkalkan truknya di tempat ini sambil menunggu ada orang yang mau menyewanya. "Biasanya truk disewa untuk mengangkut pasir, batu, hasil kebun dan sebagainya," papar pria warga Sumur Pecung ini.
Sumardi yang ditemui seusai membersihkan truknya, setiap hari membayar retribusi sebesar Rp 2.000 kepada dinas ketertiban. "Di sini hampir enam puluhan truk yang mangkal, dan mereka semua membayar retribusi yang sama. Ya kita nurut saja, daripada nggak boleh mangkal disini," ujarnya.
Begitu pun dengan para pengemudi taksi, yang memarkirkan kendaraannya di tempat ini untuk menunggu penumpang. Bahkan para tukang becak sesekali juga terlihat memasuki kawasan ini untuk memandikan becaknya dengan air dari kali yang melintas. Seperti yang dilakukan Syafei, setiap hari menjelang sore ia selalu ke Taman Sari untuk memandikan becaknya karena kotor setelah dari pagi dipakai untuk mengais rezeki.
Sementara musholla yang terdapat di tengah taman, lebih banyak digunakan para pedagang untuk tempat beristirahat dan menikamati tidur siang, layaknya di sebuah penginapan. Sedangkan kali yang membentang melintasi taman seolah menjadi WC terbuka bagi banyak orang untuk membuang hajat atau pun buang air kecil, serta menjadi tempat anak-anak kecil berenang layaknya di kolam renang. Karenanya, tak ayal ketika kita memasuki tempat ini segera tercium bau pesing yang menusuk hidung.
Belum lagi gerobak-gerobak para pedagang yang biasa berjualan pada malam hari, ikut ditaruh di tempat ini. Trotoar yang berada di luar Taman Sari pun tak luput dari para pedagang, seperti pedagang rambutan, kelinci, pecel lele, sate bebek dan beragam pedagang lainnya.
Sore hari tempat ini ramai didatangi warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Ada yang bermain bola, bermain layang-layang, atau hanya untuk sekadar nongkrong. Ada juga orang tua yang sengaja berjalan-jalan sore menikmati kawasan ini sambil membawa anak.
Ironis memang, Taman Sari yang berdiri persis di samping kantor Dinas Ketertiban dan Ketentraman, tapi terlihat begitu tidak terawat. Sangat kotor dan semrawut. Pemerintah dan dinas yang terkait seolah tutup mata terhadap tempat ini. Padahal jika lebih ditata dengan baik, Taman Sari bisa dijadikan ruang publik yang indah, aman, dan nyaman bagi siapa pun.(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar