Siapa sich anak muda di Banten yang nggak kenal Nyamuk Besi Band, grup band yang sudah sering manggung di beberapa acara lokal ini ini rasanya sudah nggak asing lagi di dengar. Band yang mengawali kariernya dalam album kompilasi ‘Indie Steel’ pada 2001 silam saat ini sedang menjajaki major label. Nyamuk Besi yang kini di gawangi oleh Tata (vocal+gitar), C-Nay (gitar), Angga (Bass), C-Nyo (drum) mengaku sudah memasuki major label. “Alhamdulillah mulai awal Februari kita akan dikontrak oleh Aquarius Musikindo, yang merupakan major label yang udah kenamaan di Jakarta,” ungkap Tata.
Awal kontraknya dengan Aquarius Tata mengaku ketika pada Desember tahun lalu anak-anak nyamuk besi sengaja datang ke kantor Aquarius, dan membawa beberapa demo lagu. Kita ujar Tata disambut baik disana, dan pihak Aquarius mulai mendengarkan beberapa demo lagui kita. “Beberapa lagu ciptaan kita didengerin disana, mereka suka dengan warna musik yang kita maenin. Alhasil, setelah melalui beberapa perbincangan kita dikontak selama beberaba tahun kedepan oleh Aquarius,” terang Tata yang memiliki nama M. Surya Tria Brata ini. Tapi ketika telah disepakati penandatanganan kontrak, nyamuk besi diminta mengganti nama gruupnya. Sampai ketika di wawancarai RY, nyamuk besi yang pernah juga masuk dalam Kompilasi Jakarta Musik Pop pada Januari 2007 ini, belum mau menyebutkan nama barunya itu. “Kita memang akan ganti nama, dan nama barunya itu merupakan kesepakatan dari semua personil. Kalo nama barunya ada dech!! Kita masih rahasiain, yang pasti berbau-bau nama Banten gitu deh,” pungkas Tata. Tapi dalam waktu dekat, band yang terkenal dengan hits ‘Selamat Tinggal Cinta’ ini bakal menggelar soft launching kontrak barunya dengan Aquarius sekligus album terbaru, yang rencananya akan di gelar di Cilegon.
Kamis, 07 Februari 2008
Jumat, 30 November 2007
Titik Nol
Kenalkan Komik Pada Pelajar
Titik Nol komunitas komik di Serang undang para pelajar untuk diberikan sosialisasi mengani literasi komik, beberapa waktu lalu di kantor K3 Ciceri Serang. Selain itu juga diberikian pengetahuan mengenai pembuatan komik, karikatur, dan sebagainya.
“Kita sengaja memberikan pengarahan seputar dunia komik ini untuk menumbuhkan minat pelajar terhadap literasi dunia komik,” ungkap Sulaeman Rusmana (25) manajer program.
Komunitas ini telah menghasilkan karya tempat nyalurin kreativitas dengan nama antologi Titik Nol.
Menurut Sulaeman, dengan melihat kondisi kekinian dan perkembangan zaman para pelajar juga perlu didorong untuk meningkatkan rasa gemar pada dunia kartun. Hal ini juga yang mendorong untuk berbagi pengetahuan. Menurutnya, seni apapun bentuknya merupakan sebuah karya yang patut dihargai dan dilestarikan.
“Kami tidak bisa berjalan sendirian, karena itu kami berusaha memberikan sosisalisasi pada para pelajar untuk pengembangan karya-karya seni,” terangnya.
Pada kegiatan tersebut diberikan arahan mengenai teknik drawing, komik, kartun, karikatur, foto, art dan kata. Hal tersebut merupakan bagian awal yang selanjutnya akan dilanjutkan dengan program go to school atau terjun ke sekolah sekitar akhir oktober nanti. “Dengan berbekalkan sedikit ilmu pengetahuan, kami berusaha berbagi pengetahuan kapada para pelajar, untuk bisa mengembangkan daya tarik pada dunia komik.”
Dalam kegitan tersebut hadir beberapa perwakilan sekolah seperti, SMAN 1 Serang, SMAN 2 Serang, SMKN 1 Serang, SMAN Kasemen, SMAN Taktakan, SMK Pasundan. Peserta terlihat antusias dan serius mendengarkan penjelasan seputar dunia kartun. Ida Mursida, seorang peserta ngerasa senang bisa ngikutin acara semacam ini karena bisa menambah wawasan mengenai dunia perkartunan.
“Gue seneng banget ikutan acara ini, karena bisa nambah ilmu tentang perkomikan,” ungkap siswi SMK Pasundan ini.
“Kita sengaja memberikan pengarahan seputar dunia komik ini untuk menumbuhkan minat pelajar terhadap literasi dunia komik,” ungkap Sulaeman Rusmana (25) manajer program.
Komunitas ini telah menghasilkan karya tempat nyalurin kreativitas dengan nama antologi Titik Nol.
Menurut Sulaeman, dengan melihat kondisi kekinian dan perkembangan zaman para pelajar juga perlu didorong untuk meningkatkan rasa gemar pada dunia kartun. Hal ini juga yang mendorong untuk berbagi pengetahuan. Menurutnya, seni apapun bentuknya merupakan sebuah karya yang patut dihargai dan dilestarikan.
“Kami tidak bisa berjalan sendirian, karena itu kami berusaha memberikan sosisalisasi pada para pelajar untuk pengembangan karya-karya seni,” terangnya.
Pada kegiatan tersebut diberikan arahan mengenai teknik drawing, komik, kartun, karikatur, foto, art dan kata. Hal tersebut merupakan bagian awal yang selanjutnya akan dilanjutkan dengan program go to school atau terjun ke sekolah sekitar akhir oktober nanti. “Dengan berbekalkan sedikit ilmu pengetahuan, kami berusaha berbagi pengetahuan kapada para pelajar, untuk bisa mengembangkan daya tarik pada dunia komik.”
Dalam kegitan tersebut hadir beberapa perwakilan sekolah seperti, SMAN 1 Serang, SMAN 2 Serang, SMKN 1 Serang, SMAN Kasemen, SMAN Taktakan, SMK Pasundan. Peserta terlihat antusias dan serius mendengarkan penjelasan seputar dunia kartun. Ida Mursida, seorang peserta ngerasa senang bisa ngikutin acara semacam ini karena bisa menambah wawasan mengenai dunia perkartunan.
“Gue seneng banget ikutan acara ini, karena bisa nambah ilmu tentang perkomikan,” ungkap siswi SMK Pasundan ini.
Info Oto
Tampil Dengan Girlie
Buat modifikator motor yang ragu ingin mengecat maotornya dengan warna-warna girlie, nggak perlu khawatir lagi bakal terlihat nggak bagus ataupun terkesan feminin. Anggi Wijaya, pemilik motor Mio ini nggak segan-segan ngeganti warna catnya yang semula ungu menjadi pink yang dipaduin dengan warna putih. Cowok yang satu ini nggak ngerasa risih dengan tampilan warna seperti ini. “Gue sich pede aja, malahan dengan begini motor gue jadi keliatan makin Sip,” ulasnya.
Anggi nuturin, kalo sebenernya skutiknya ini bergaya simple minimalis, yaitu dengan memodif beberapa bagian dari motornya, seperti bagian bawah mulai dari ban yang semula 70/90 dibuat menjadi 80/80 dipadu pelek yang dichrome serta cakram racing one. Ia juga memakai bordess custom buat mempercantik motornya. “Aksen-aksen lain yang gue tambahain yaitu lampu kodok di depan, stang mountain bike, body kit CBR, dan knalpot ala Moto GP termignoni,” papar cowok yang merupakan ketua COMIC (Community Motor Independent Smancil) Cilegon ini. Ketika ditanya apakah ia masih ingin memodif lagi, cowok yang bersekolah di SMAN 1 Cilegon ini ngaku akan terus ngelakun perubahan. “Tapi nggak terlalu ekstreme, biar nggak ngurangin fungsi dari motor juga,” ucap cowok yang sudah beberapa kali ngikutin kontes motor modifikasi, dan pernah menyabet juara tiga pada Yamaha Funtastik ini lalu.
Anggi nuturin, kalo sebenernya skutiknya ini bergaya simple minimalis, yaitu dengan memodif beberapa bagian dari motornya, seperti bagian bawah mulai dari ban yang semula 70/90 dibuat menjadi 80/80 dipadu pelek yang dichrome serta cakram racing one. Ia juga memakai bordess custom buat mempercantik motornya. “Aksen-aksen lain yang gue tambahain yaitu lampu kodok di depan, stang mountain bike, body kit CBR, dan knalpot ala Moto GP termignoni,” papar cowok yang merupakan ketua COMIC (Community Motor Independent Smancil) Cilegon ini. Ketika ditanya apakah ia masih ingin memodif lagi, cowok yang bersekolah di SMAN 1 Cilegon ini ngaku akan terus ngelakun perubahan. “Tapi nggak terlalu ekstreme, biar nggak ngurangin fungsi dari motor juga,” ucap cowok yang sudah beberapa kali ngikutin kontes motor modifikasi, dan pernah menyabet juara tiga pada Yamaha Funtastik ini lalu.
Diskusi Bareng Taufiq Ismail Di Rumah Dunia
Jangan Takut Menulis
Siang itu, Sabtu (17/11) rumah dunia ramai dikunjungi orang-orang. Ada pelajar, mahasiswa, dosen, bahkan budayawan asal Serang pun ikut hadir buat ngikutin diskusi yang dihadiri sastrawan kenamaan Taufiq Ismail. Diskusi kali ini mengupas seputar proses kreatif dan kepengarangan dari sastrawan besar negeri ini, salah satunya adalah Taufiq Ismail sendiri.
Acara di awali dengan pembacaan beberapa puisi oleh Taufiq seperti, ‘Sajadah Panjang’, ‘Dengan Puisi Aku’, ‘Cahaya Di Atas Cahaya’. Pembacaan pusisi yang penuh penghayatan, membuat suasana hening, seakan terpukau oleh sastrawan yang lahir di Bukit Tinggi 1935.
Acara yang domoderatori Wan Anwar ini berlangsung interaktif ketika Taufiq membagi pengalamann dan suka duka ketika ia pertama kali menulis, hingga menghasilkan karya-karya puisi yang baik untuk negeri ini. Dalam paparannya Taufiq bilang, bahwa jangan takut untuk mulai menulis. “Menulis bisa dimulai sejak dini, mulailah menulis apa saja, karena secara tidak sadar baik di sekolah, kampus atau kegiatan sehari-hari kita sudah melakukan proses menulis,” urainya.
Ditambahin, puisi yang baik itu adalah yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang indah, bisa menggetarkan dan mengharukan siapa saja yang membaca serta ada pesan yang disampaikan melalui puisi tersebut sehingga bisa menggugah pembacanya.
Diskusi ini dihadiri oleh ratusan orang yang berasal dari pesantren Tarbiyah Nurul Maarif Serang, SMAN 3 Rangkasbitung, STKIP STIA Budi Rangkasbitung, SMP Al-Irsyad Waringinkurung, IAIN, Untirta, dan banyak lagi. Diajeng Lestari, mahasiswi FISIP Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini sengaja dating ke rumah dunia untuk menyaksikan Taufiq Ismail. “Diskusi seperti ini sangat inspiratif, yang bisa membangun peradaban dengan membaca yang memang merupakan tugas besar orang tua, guru dan pemerintah. Serta, dengan adanya kunitas rumah dunia ini ada visi yang besar untuk membangun Banten,” ungkapnya. (adit)
Acara di awali dengan pembacaan beberapa puisi oleh Taufiq seperti, ‘Sajadah Panjang’, ‘Dengan Puisi Aku’, ‘Cahaya Di Atas Cahaya’. Pembacaan pusisi yang penuh penghayatan, membuat suasana hening, seakan terpukau oleh sastrawan yang lahir di Bukit Tinggi 1935.
Acara yang domoderatori Wan Anwar ini berlangsung interaktif ketika Taufiq membagi pengalamann dan suka duka ketika ia pertama kali menulis, hingga menghasilkan karya-karya puisi yang baik untuk negeri ini. Dalam paparannya Taufiq bilang, bahwa jangan takut untuk mulai menulis. “Menulis bisa dimulai sejak dini, mulailah menulis apa saja, karena secara tidak sadar baik di sekolah, kampus atau kegiatan sehari-hari kita sudah melakukan proses menulis,” urainya.
Ditambahin, puisi yang baik itu adalah yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang indah, bisa menggetarkan dan mengharukan siapa saja yang membaca serta ada pesan yang disampaikan melalui puisi tersebut sehingga bisa menggugah pembacanya.
Diskusi ini dihadiri oleh ratusan orang yang berasal dari pesantren Tarbiyah Nurul Maarif Serang, SMAN 3 Rangkasbitung, STKIP STIA Budi Rangkasbitung, SMP Al-Irsyad Waringinkurung, IAIN, Untirta, dan banyak lagi. Diajeng Lestari, mahasiswi FISIP Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini sengaja dating ke rumah dunia untuk menyaksikan Taufiq Ismail. “Diskusi seperti ini sangat inspiratif, yang bisa membangun peradaban dengan membaca yang memang merupakan tugas besar orang tua, guru dan pemerintah. Serta, dengan adanya kunitas rumah dunia ini ada visi yang besar untuk membangun Banten,” ungkapnya. (adit)
Langganan:
Postingan (Atom)
