Sabtu, 10 Mei 2008

Banten Lama Kini


Kejayaan Masa Lalu dan Kekumuhan Masa Kini


“Pak, Bu, minta sedekahnya!!”
Suara anak kecil tersebut terdengar saat memasuki kawasan Masjid Agung Banten yang terletak di Banten Lama, Kota Serang. Mereka saling berebut minta sedekah kepada peziarah. Tidak hanya itu, peminta-minta setengah baya yang berpakaian lusuh terkadang melantunkan shalawat nabi sambil menyodorkan mangkuk kosong minta sedekah.
***
Aditya Ramadhan – Ruben Hutasoit – Serang

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah, atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi, Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.
Sayangnya, pada zaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC
. Seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung
Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiudin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stanford Raffles
. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.
Kini, yang terlihat hanya sisa-sisa bangunan kejayaan masa lalu seperti benteng Spellwijk, reruntuhan keraton Surasowan dan Kaibon yang diluluhlantakan Belanda. Di antara bangunan yang sudah luluhlantah dan tidak terawat itu, masih ada bangunan yang berdiri kokoh yaitu masjid agung Banten dan menara masjid. Hanya itu yang tersisa dari masa kejayaan Banten. Meski begitu, Banten Lama yang dahulu cukup jaya dan disegani kerajaan lainnya di nusantara hingga saat ini mampu memberikan penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Masjid Agung Banten kini jadi tempat berziarah dan rekreasi masyarakat Banten maupun nusantara. Layaknya tempat ziarah dan rekreasi, pasti melibatkan berbagai sektor, di antaranya adalah perdagangan. Namun yang banyak dikeluhkan pengunjung Banten Lama adalah banyaknya pengemis yang berkeliaran. Dari mulai anak-anak sampai kakek-nenek.

Keberadaan Pedagang dan Pengemis
Begitu masuk areal Masjid Agung Banten Lama, yang terlihat pertama kali adalah pedagang kaki lima (K5) yang menyesaki jalan. Mulai dari pedagang makanan, minuman, minyak wangi, perlengkapan salat, sampai tanaman hias. Tidak hanya di luar masjid, di dalam areal masjid pun masih ada pedagang seperti di sekitar tempat wudhu dan WC umum. Pedagang itu berjajar menawarkan perlengkapan salat seperti kopyah, tasbih serta asesories lainnya. Banyak pedagang membuat suasana Banten lama sesak dan kumuh.
Sebenarnya keberadaan mereka sudah sering ditertibkan, baik oleh pengurus masjid ataupun oleh pemerintah. Namun tindakan pemerintah untuk menata pedagang K5 di sekitar Masjid Agung Banten ini kurang signifikan, seperti penataan tempat yang strategis untuk mereka.
“Kami sudah sering menertibkan pedagang mulai dari teguran sampai surat, tapi mereka tidak menggubrisnya dan kembali seperti itu lagi,” ungkap Tb. A Furqon Saefullah, salah seorang pengurus Masjid Agung Banten.
Akibatnya, pedagang semakin makin seenaknya menempatkan dagangannya di areal lokasi wisata tersebut. Seperti yang diutarakan Muhammad Jumni (33), salah satu pedagang. Ia mengaku tidak suka dengan posisi tempat berjualannya yang kebetulan tepat di depan pintu masuk mesjid Agung Banten tersebut. Akan tetapi, karena penataan pemerintah terhadap pedagang di lokasi tersebut dirasa tidak serius dan tanpa musyawarah, akhirnya pedagang berebut tempat strategis untuk berjualan di sekitar mesjid Agung Banten.
Menurutnya, tujuan utama pengunjung datang ke Masjid Agung Banten untuk berziarah, bukan untuk membeli barang yang dijual. Keberadaan pedagang di tempat itu hanya pelengkap. Dengan alasan seperti itu, pedagang memanfaatkannya sebagai tempat berburu rezeki, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena keberadaan pedagang tidak tertata dengan baik, areal Banten Lama pun semakin kumuh. Akses jalan semakin sempit. Jika diperhatikan, pengunjung yang berkunjung ke tempat itu bukannya mendapatkan suasana yang nyaman, malah kebalikannya. Pengunjung merasakan suasana di pasar tradisional yang identik dengan kebisingan dan hiruk pikuk penjual dan pembeli. Seperti yang diungkapkan Yeni, warga Ciputat, Tangerang. Menurutnya, penataan pedagang harus lebih baik dan rapi, agar tercipta suasana yang nyaman bagi pengunjung dan peziarah.
Apalagi pedagang tersebut bukan masyarakat asli Banten Lama. Mereka berasal dari Pontang, Indramayu, dan dari luar Banten lainnya. “Kebanyakan pedagang bukan dari wilayah sini tapi dari luar,” papar Furqon.
Selain dipenuhi pedagang, Banten Lama juga dipenuhi oleh pengemis. Setiap hari, ratusan pengemis dari mulai anak-anak sampai kakek-nenek mencari sedekah di areal Masjid Banten Lama. Akibatnya, Banten Lama semakin terlihat kumuh. Selain kumuh, keberadaan pengemis itu juga membuat pengunjung tidak nyaman. Apalagi pengemis yang masih anak-anak, mereka meminta sedekah dengan cara membuntuti pengunjung hingga masuk ke tempat ziarah.

Tempat Berziarah
Kejayaan nama Banten Lama dengan berbagai latar belakang sejarah menarik banyak orang untuk datang. Ada yang datang hanya sekadar berkunjung untuk melihat bekas peninggalan sejarah, ada juga yang melakukan ziarah dengan maksud yang beragam. Ada yang minta keselamatan dan bermacam-macam lainnya. Seperti yang dilakukan Siti Nur Aisyah (36). Jauh-jauh datang dari Riau ke Banten Lama hanya minta keselamatan bagi keluarganya yang baru melaksanakan syukuran, sunatan, dan kawinan.
Aktivitas yang dilakukan di Banten Lama adalah melakukan ziarah ke beberapa makam yang ada di areal Banten Lama. Salah satunya ziarah ke makam Sultan Maulana Hasanuddin. Di samping itu, mereka juga menyempatkan diri menikmati air zam-zam yang disediakan pengurus masjid. Selain itu, mereka juga menyempatkan diri menunaikan salat di Masjid Agung Banten Lama.
”Baru pertama kali saya berkunjung ke Banten Lama ini. Cuma saya sangat menyayangkan tempat ini tidak ditata dengan baik,” ujarnya.

Pembenahan Masjid
Bangunan masjid semakin tua dan tidak tertata serta terpelihara dengan baik. Akibatnya, Masjid Agung Banten Lama kehilangan ruh kemegahannya. Menurut Furqon, dana untuk memperbaiki bangunan masjid sebenarnya cukup diambil dari kotak infak yang jumlahnya cukup banyak. Sebab, jika dihitung, kotak amal yang ada di Masjid Agung Banten Lama cukup banyak. Di pintu masuk masjid saja ada tiga kotak amal. Belum lagi kotak amal di tiap pintu masuk makam yang akan di ziarahi pengunjung. Sedangkan jumlah pengunjung setiap tahunnya bisa mencapai 7 juta jiwa. “Jika setiap pengunjung menyumbangkan Rp 1000 untuk kotak amal, jumlahnya pasti bisa memenuhi biaya perombakan masjid, namun uang hasil dari kotak amal tersebut tidak jelas dikemanakan atau untuk apa digunakan,” paparnya.
Tapi bagaimanapun keberadaan Banten Lama dengan segala kondisinya memiliki sejarah panjang yang cukup megah. Dan yang lebih penting, masyarakat dapat memelihara agar tidak punah. (*)

Jumat, 02 Mei 2008

Kehidupan Pengamen Jalanan di Serang

Demi Receh Korbankan Sekolah

Setiap hari, hampir setiap persimpangan lampu merah di Serang, banyak anak-anak jalanan berkeliaran. Dengan berbekal ukulele, bongo, atau tutup limun yang disulap menjadi kecrek, mereka siap beraksi. Layaknya artis, mereka bernyanyi di bawah terik matahari diantara himpitan kendaraan beroda empat atau dua yang menunggu lampu hijau menyala. Tanda kendaraan boleh jalan. Kalau diamati mereka seharusnya bukan berada di jalanan, tapi berada di tempat yang layak seperti anak-anak sewajarnya, yaitu di sekolah, mengingat usia mereka masih sangat muda.
***
Aditya Ramadhan – Fauzi Albantani - Serang

Dengan pakain lusuh dan sedikit kumal ala anak-anak Punk, Asep (20), Qmong (16) dan Resta (15) menjajakan suaranya di perempatan lampu merah di kawasan Sumur Pecung Serang. Satu persatu mobil yang berhenti mereka datangi sambil menyanyikan sebuah lagu, dan menanti sedikit kebaikan para pengendara untuk memberikan uang. Asep terlihat asik menggenjreng ukulelenya sambil menyanyikan lagu jalanan khas pengamen, Resta asik menabuh bongo yang terbuat dari paralon yang dibungkus dengan karet ban bekas. Wajah mereka sesekali tersenyum ketika salah satu pengendara menjulurkan tangan dari dalam mobil untuk memberikan recehan, kalau pun tak di berikan uang dan mendapat perlakuan yang kurang mengenakan dari pengendara, mereka berlalu pergi dan berganti ke kendaraan lain. Kembali mengharapkan uang recehan.

Hampir setiap hari mereka mengamen, perempatan lampu merah di Serang ia jajaki satu persatu, mulai dari pukul 09.00 pagi hingga sekira pukul 05.00 sore. Mereka, rasanya tak pernah lelah untuk mengamen. Bahkan, mereka terlihat riang, lantaran ngamen adalah rutinitas yang utama. “Paling enak, jam segini ngamen disini (Lampu merah-red) atau nggak di alun-alun Serang,” ujar Asep ketika ditemui Radar Banten, Kamis (23/4) lalu. Setiap ngamen, dalam sehari mereka bisa mengantongi uang 20-25 ribu. Tak banyak memang, tapi bagi mereka asalkan cukup untuk makan sudah merasa senang.

Selain di persimpangan lampu merah, anjal juga kerap mengamen di sepanjang jalan Diponegoro, kawasan Kantin, dan Royal Serang. Para artis jalanan ini didominasi oleh anak-anak usia belasan atau usia sekolah dasar. Sedari sore hingga mendekati tengah malam mereka menghibur dari satu warung tenda ke warung tenda lainnya. Wajar saja, tempat ini menjadi daya tarik bagi anjal, lantaran di tempat ini selalu ramai dipadati para pembeli untuk membeli beragam makanan yang dijajakan di warung-warung tenda tersebut. “Disini kan ramai, makanya kita ngamen disini,” ucap Pia, bocah berusia 13 tahun.
Tentu saja keberadaan mereka dianggap mengganggu ketertiban umum oleh berbagai pihak. Salah satu pihak yang paling merasa terganggu, tentunya datang dari kalangan pengendara dan pembeli yang sedang menikmati di warung-warung tenda. Sebut saja Mulia (25) yang kerap berkendara mobil saat menunggu lampu hijau di kawasan Ciceri Serang. Menurutnya, para pengamen tidak pernah memaksa saat mengharapkan imbalan dari pengendara mobil yang berhenti saat lampu merah. Namun keberadaan mereka, tetap saja mengganggu para pengguna jalan. “Pas lampu sudah hijau, kadang-kadang mereka seenaknya saja menyebrang, tanpa menghiraukan pengendara yang akan melintas,” katanya.
Selain Mulia, Pramono (41) yang sedang menikmati seafood di warung tenda di kawasan kantin, juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya keberadaan pengamen, terkadang mengganggu suasana dirinya yang tengah menikmati hidangan. “Mereka sih kebanyakan nggak maksa untuk mengharapkan recehan dari orang, tapi kalau pengamennya sering-sering, kita juga terganggu,” katanya.

Berbagai Pengalaman
Keras memang menjalanani kehidupan jalanan, karena selain harus bersaing dengan para pengamen lainnya dalam mencari uang, para pengemen pun sering ditertibkan oleh para petugas keamanan. Pengalaman itu yang kerap dirasakan oleh para pengamen jalanan yang ada di Serang. Hampir setiap pengamen pernah mengalami diciduk oleh petugas trantib. Seperti yang dialami Asep, ia mengenang ketika dirinya dan teman-teman di tertibkan oleh petugas keamanan ketika sedang mengamen. Ia pun segera digelandang ke markas petugas keamanan, dan langsung di interogasi serta di beri pengarahan. Tapi ketika diberi pengarahan oleh petugas, Asep bercerita para pengamen sering mendapat perlakuan dan tindak kekerasan dari petugas, seperti di pukuli atau ditendang. “Padahal saya dan teman-teman tidak mencuri atau ngerampok, tapi kenapa kok dipukuli, saya khan cuma cari makan di jalanan,” terang Asep yang mengaku sudah berkeluarga di usia belia ini.
Asep pun bercerita, ada pengamen jalanan yang meninggal akibat digebugin petugas keamanan, saat terkena razia. Atas kejadian itu, Asep sempat dendam dengan petugas keamanan, yang menyebabkan rekannya tewas. “Kejadiannya sih udah lama, kira- kira 3 tahun yang lalu. Saat itu saya juga kena razia. Pas kami dibawa di markas petugas, petugas tidak segan- segan memukuli kami. Bahkan 2 teman saya sampai luka berat dan beberapa hari kemudian meninggal,” ujarnya, dengan mimik muka sedih.
Asep, juga mengaku bila dirinya terkena razia oleh petugas keamanan dia hanya bias berharap mereka tidak memperlakukan dengan kasar kepada pengamen atau anak jalanan lainnya, kalau pun mau ditertibkan sebaiknya diberi pengarahan yang benar.
Mendapat perlakuan kekerasan ternyata tidak hanya datang dari para petugas keamanan semata, tetapi sesama Anjal pun terkadang sering berkelahi. Biasanya mereka saling memperebutkan daerah kekuasaan. Seperti yang diakui Qmong teman Asep, saat ini saja kondisi pengamen di Serang sedang tidak aman, karena saling berebut kekuasaan tempat mengamen, tapi untungnya belum terjadi perkelahian.
“Kalau berantem udah sering, biasanya antar sesama pengamen, ya itu mah sudah resiko hidup di jalanan,” ungkap Pia ketika di temui seusai mengamen.
Dibalik berbagai pengalan kerasnya hidup di jalanan, Asep dan kawan-kawan bahkan punya pengalaman yang mengasikan. Dimana dirinya bisa ngamen hingga ke luar Banten, seperti Serpong, Tangerang, Jogjakarta hingga mencapai pulau Dewata Bali. Hal itu dilakukannya untuk mencari pengalaman, serta mencari tempat-tempat baru untuk dikunjungi. “Saya suka berpetualang, atau istilah Punk disebut dengan on The Street. Disana saya dapat kenalan baru, ujarnya sambil memegang ukulele kesayangannya.

Banyak Penyebab

Tak ada seorang pun yang menginginkan untuk hidup di jalanan, karena jalanan hampir serupa dengan hutan yang memberlakukan hukum rimba ‘Siapa yang kuat dia yang menang’. Itulah yang tepat digambarkan untuk kehidupan jalanan. Banyak penyebab kenapa para anak-anak yang masih berumur belia menjadi pengamen jalanan. Penyebab yang cukup klasik, karena faktor ekonomi keluarga, sehingga mereka ikut menanggung beban yang berat. Padahal bila dilihat dari usia, mereka seharusnya belum memikirkan biaya hidup keluarga ataupun membiayai sekolah mereka. Yang harus mereka pikirkan adalah bermain seperti layaknya anak-anak yang berkecukupan dan menikmati bangku sekolah.
Pia (13), pengamen di kawasan kantin Serang mengaku menjadi pengamen lantaran untuk membiayai sekolahnya, karena keterbatasan ekonomi keluarganya ia harus berjuang setiap malamnya untuk mengamen. Kebanyakan anak seusianya dihabiskan untuk bermain dan belajar, Pia malah menghabiskan waktu dengan mencari uang untuk keperluan sekolah. “Hasil dari ngamen setiap hari saya masukin celengan, buat bayar biaya sekolah, atau beli keperluan sekolah lainnya,” pungkas bocah asal Pekarungan Serang ini.
Tapi diantara sekian banyaknya pengamen di jalanan, ada juga awalnya yang hanya sekadar ikut-ikutan, dan lama kelamaan menjadi sebuah profesi menjadi penghibur jalanan. Sehingga yang tadinya bersekolah, saking asyiknya di Jalanan, mereka memilih untuk yidak melanjutkan sekolah. “Tadinya saya sekolah, tapi uangnya tidak begitu cukup. Akhirnya saya mutusin untuk ngamen aja, seperti teman- teman saya,” kata Suganda, anjal yang lain.
Kisah Asep, Pia, dan Suganda, mungkin hanya sebagian kecil saja yang hidup dalam kerasnya kehidupan jalanan. Masih banyak lagi anjal yang mengalami hal serupa. Bila dihitung, mungkin jumlahnya bias mencapai ratusan bahkan ribuan. Namun, dalam benak mereka, ada keinginan untuk tidak selalu menjadi anjal. Mereka juga punya angan-angan memiliki kehidupan yang layak dan tentunya ingin kembali mendapatkan pendidikan yang layak.

Sabtu, 22 Maret 2008

Roket


Roket merupakan peluru kendali atau pesawat terbang yang menghasilkan dorongan melalui reaksi pembakaran dari mesin roket. Dorongan ini terjadi karena reaksi cepat pembakaran/ledakan dari satu atau lebih bahan bakar yang dibawa dalam roket. Dorongan ini dijelaskan mengikuti Hukum Pergerakan Newton ke 3. Seringkali definisi roket digunakan untuk merujuk kepada mesin roket.
Dalam istilah militer, roket merujuk kepada bahan peledak berpendorong tanpa alat pengendali. Roket ini bisa diluncurkan oleh pesawat penyerang darat (roket udara ke permukaan), ditembakkan dari permukaan (darat/laut) ke sasaran di udara (darat ke udara), atau bisa ditembakkan dari permukaan (darat/laut) ke sasaran permukaan yang lain. Ketika era perang Vietnam, terdapat juga roket darat-udara tanpa kendali yang dibuat untuk menyerang pesawat yang terbang dalam formasi. Peluru kendali serupa dengan roket dengan perbedaan sistem kendali untuk memperbesar kemungkinan mengenai sasaran.
Ukuran roket berbeda dari model kecil yang bisa dibeli di toko hobi di negara-negara tertentu, sampai yang berukuran besar Saturn V yang digunakan untuk program Apollo.
Untuk penjelajahan angkasa luar yang tidak terdapat udara maka roket tersebut harus membawa sendiri bahan bakar dan oksigen untuk menghasilkan daya dorong yang diperlukan.
Kebanyakan roket saat ini adalah roket kimia. Mesin roket ini memerlukan bahan bakar padat atau cair, seperti bahan bakar cair Booster/penguat Pesawat ulang-alik dan mesin utamanya yang digunakan untuk melepaskan diri dari gravitasi bumi. Reaksi kimia dimuali di ruang bakar dengan bahan bakar (dengan udara atau oksigen bila di ruang angkasa) dan gas panas yang dihasilkan mengalir dengan tekanan tinggi keluar melalui saluran yang menuju ke arah belakang roket. Tekanan gas yang menyembur keluar inilah yang menghasilkan gaya dorong bagi roket sehingga roket dapat bergerak maju atau ke atas.
Terdapat konsep jenis roket lain yang semakin sering digunakan di luar angkasa adalah pendorong ion, yang menggunakan energi elektromagnet bukan tenaga dari reaksi kimia. Roket terminal nuklir juga telah dibangun, tetapi tidak pernah digunakan.
Dalam sejarah, roket pertama dibuat oleh China sekitar 300 S.M., menggunakan mesiu. Pada mulanya digunakan untuk kepentingan hiburan/keagamaan (untuk menghalau hantu setan), dengan bentuk petasan, tetapi kemudian digunakan dalam peperangan pada abad ke 11. Peranan roket dalam peperangan intens digunakan pada pihak Eropa ketika Kerajaan Usman. Selama beberapa abad roket tetap menjadi misteri di dunia Barat.
Pada akhir abad ke 18, roket digunakan dalam peperangan di India melawan Inggris, yang mengambil dan memajukannya lebih lanjut pada abad ke 19. Tokoh utama dalam bidang roket ketika ini adalah William Congreve. Dari situ, penggunan roket ketentaraan merebak ke seluruh Eropa. Cahaya merah roket memberi inspirasi kepada lagu kebangsaan US, The Star-Spangled Banner.
Roket ketika itu amat tidak efisien. Roket modern bermula ketika Robert Goddard meletakkan corong de Laval pada kamar pembakaran mesin roket, menggandakan daya dorong dan meningkatkan efisiensi, membuka kemungkinan kepada perjalanan vertikal ke angkasa. Teknik ini kemudiannya digunakan pada roket V-2, dirancang oleh Wernher Von Braun yang menjadi pemain utama dalam memajukan roket modern. V2 digunakan secara luas oleh Adolf Hitler dalam fase akhir Perang Dunia II sebagai senjata teror kepada penduduk Inggris, setiap peluncuran yang berhasil menjulang tinggi ke angkasa menandai awal Zaman Angkasa. (adit-wikipedia)

Sabtu, 08 Maret 2008

Pramoedya Ananta Toer


Novelis yang Legendaris

Ia dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 oleh seorang ibu yang memberikan pengaruh kuat dalam pertumbuhannya sebagai individu. Pramoedya mengatakan bahwa semua yang tertulis dalam bukunya terinspirasi oleh ibunya. Karakter kuat seorang perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, seorang pribadi yang tak ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu sedikitpun. Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia melihat revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan – ibunya. Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya masih berumur 17 tahun.
Setelah ibunya meninggal, Pramoedya dan adiknya meninggalkan rumah keluarga lalu menetap di Jakarta. Pramoedya masuk ke Radio Vakschool, di sini ia dilatih menjadi operator radio yang ia ikuti hingga selesai, namun ketika Jepang datang menduduki, ia tidak pernah menerima sertifikat kelulusannya. Pramoedya bersekolah hingga kelas 2 di Taman Dewasa, sambil bekerja di Kantor Berita Jepang Domei. Ia belajar mengetik lalu bekerja sebagai stenografer, lalu jurnalis.
Ia menulis novel pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara Belanda (1947-1949). Setelah Indonesia merdeka, tahun 1949, Pramoedya menghasilkan beberapa novel dan cerita singkat yang membangun reputasinya. Novel Keluarga Gerilya (1950) menceritakan sejarah tentang konsekuensi tragis dari menduanya simpati politik dalam keluarga Jawa selama revolusi melawan pemerintahan Belanda.
Cerita-cerita singkat yang dikumpulkan dalam Subuh (1950) dan Pertjikan Revolusi (1950) ditulis semasa revolusi, sementara Tjerita dari Blora (1952) menggambarkan kehidupan daerah Jawa ketika Belanda masih memerintah. Sketsa dalam Tjerita dari Djakarta (1957) menelaah ketegangan dan ketidakadilan yang Pramoedya rasakan dalam masyarakat Indonesia setelah merdeka. Dalam karya-karya awalnya ini, Pramoedya mengembangkan gaya prosa yang kaya akan bahasa Jawa sehari-hari dan gambar-gambar dari budaya Jawa Klasik.
Kini belasan bukunya sudah diterjemahkan lebih dari 30 puluh bahasa termasuk Belanda, Jerman, Jepang, Rusia dan Inggris. Karena prestasinya inilah ia dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time dan telah memperoleh berrbagai penghargaan seperti PEN Freedom-to-Write Award, Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award (dinilai dengan brilyan menonjolkan kebangkitan dan pengalaman moderen rakyat Indonesia).
Novel-novel sejarah yang dibuat oleh Pramoedya mengungkap sejarah yang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah, yang kebanyakan jauh dari kenyataan. Seperti Nelson Mandela, ia menolak untuk memaafkan pemerintah yang telah mengambil banyak hal dalam kehidupannya. Ia khawatir bila ia mudah memaafkan, sejarah akan segera dilupakan. Ia menekankan pentingnya mengetahui sejarah seseorang sehingga orang lain tidak mengulangi kesalahan yang sama di tahun-tahun yang akan datang.
Pramoedya juga menyukai karya sastrawan lain seperti Leo Tolstoy, Anton Chekov, atau John Steinbeck. Kekagumannya pada gaya bercerita Steinbeck yang detail juga mempengaruhinya dalam menulis. Namun, Pramoedya tidak suka dengan karya Ernest Hemingway, yang dianggapnya tidak manusiawi.
Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia di usianya yang ke-81 tahun pada Minggu 30 April 2006 sekitar pukul 08.30 WIB di rumahnya Jl Multikarya II No.26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Sang Pujangga kelahiran Blora 6 Februari 1925 yang dipanggil Pram dan terkenal dengan karya Tetralogi Bumi Manusia, itu dimakamkan di TPU Karet Bivak pukul 15.00, Minggu 30/4. Sebelumnya, dia dirawat di ICU RS St Carolus Jakarta. Kemudian sejak Sabtu sekitar pukul 19.00 WIB dia meminta pulang dan dokter mengizinkan. Sastrawan yang oleh dunia internasional, sebagaimana ditulis Los Angeles Time, sering dijuluki Albert Camus Indonesia itu termasuk dalam 100 pengarang dunia yang karyanya harus dibaca sejajar dengan John Steinbejk, Graham Greene dan Bertolt Berecht. (adit– dari berbagai sumber)

Sabtu, 01 Maret 2008

Elegi di Taman Sari



Wajah Suram Jantung Kota Serang
Begitu mendengar nama Taman Sari, orang akan membayangkan sebuah taman yang indah dan asri. Dipenuhi pepohonan dan kicau burung. Namun tidak demikian dengan Taman Sari di Kota Serang. Taman itu kumuh dan tidak terawat. Bahkan, salah satu ikon Kota Serang ini hanya dijadikan tempat mangkal truk, pedagang, dan lainnya. Sama sekali jauh dari kesan asri dan indah. Padahal, Taman Sari berada di jantung kota. Masyarakat dari luar kota yang datang menggunakan kereta api pasti melihat dan melewati Taman Sari.

ADIT – ISA – SERANG
Siang itu sekitar pukul 14.30 Stasiun Kereta Api Serang yang biasa disebut Stasiun Taman Sari, menunjukan aktivitasnya. Begitu ramai. Pedagang asongan sibuk menawarkan dagangannya kepada para penumpang yang sedang menunggu kedatangan kereta. Pasalnya, hari itu masih ada kereta terakhir tujuan Tanah Abang yang akan tiba pukul 15.00 WIB.
Stasiun warisan kolonial Belanda yang dibangun pada 20 Desember 1900 itu tidak pernah sepi. Dari pagi hingga sore, para penumpang dengan berbagi profesi datang dan pergi silih berganti. Tepat pukul 15.00 WIB si Kuda Besi pun tiba. Ada yang turun, ada pula yang naik. Seiring beranjaknya waktu, suasana stasiun pun mulai lengang.
Itu hanya salah satu aktivitas yang biasa ditemui setiap harinya di kawasan Taman Sari, sebuah kawasan strategis yang dapat ditempuh dari berbagi arah. Jika hendak ke pusat perbelanjaan Royal, kita pasti melintasi kawasan ini. Begitu pun jika hendak ke Pasar Rau. Dengan rute dari Cipare kita akan menjumpai kawasan yang terdapat patung perjuangan masyarakat Serang ketika melawan penjajah. Sayangnya, kawasan Taman Sari terlihat kumuh.
Meskipun demikian, Taman Sari merupakan kawasan yang banyak memberikan penghidupan bagi masyarakat untuk mengais rezeki. Tengok saja di sebelah timur Taman Sari, di situ berjejer kios-kios yang menjual berbagi jenis ikan, terutama ikan hias dan segala perlengkapannya. Sekitar 10 kios ikan menjual berbagi jenis ikan, mulai ikan yang berukuran sangat kecil sampai yang seukuran paha orang dewasa.
Andri, salah satu penjual ikan menuturkan, ikan-ikan itu didatangkan dari Sukabumi, Bogor dan Bandung. Ikan yang dijual pun jenisnya beragam, seperti ikan mas, lele, nila, tambak, patin, koi, cupang, dan lainnya.
"Sebelum di sini saya jualan di daerah Cipocok Jaya. Saya pindah karena penghasilannya jauh lebih baik. Ramenya waktu week end sama hari libur. Satu hari penghasilan bisa satu juta lebih. Kalo hari-hari bisa paling cuma dapet 400-500 ribuan. Di sini tuh tempatnya enak dan nyaman," tutur Andri.
Andri merupakan salah satu pedagang ikan hias yang mencari petruntungan di kawasan Taman Sari. Dibanding pedagang ikan lainnya, Andri memiliki koleksi ikan yang cukup membuat orang tertegun. Pasalnya, ia memiliki ikan koi yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan sejenis lainnya, atau bisa dikatakan raksasa. Namun selama ini belum ada pembeli tertarik membeli. Barangkali harganya terlalu mahal.
"Tapi kayaknya itu nggak berlaku buat orang yang hobi koleksi ikan. Kalo udah suka mah, harga berapa aja jadi," tambah Andri yang membantu usaha kakaknya tersebut.
Setiap pagi para pedagang kakilima juga menggelar dagangannya di sekitar Taman Sari. Mereka menggelar dagangannya di tengah jalan, bahkan sampai pinggir rel kereta api. Hal tersebut tentu menimbulkan kemacetan pada terutama di pagi hari.
Perlu diketahui, sejak tahun 70-an, Taman Sari dijadikan terminal angkutan luar kota. Seluruh angkutan dari Pandeglang, Cilegon, Merak, Tangerang, dan Jakarta mangkal di Taman Sari. Namun pada pertengahan 70-an, Taman Sari berubah fungsi. Saat itu, lokasi yang sekarang di jadikan taman dipenuhi warem alias warung remang-remang. Namun pada tahun 90-an, Pemkab Serang mengubah kawasan menjadi sebuah taman. Sayangnya, taman itu kini terkesan kumuh dan acak-acakan. Kawasan ini pun kini dijadikan pangkalan truk-truk pengangkut barang dan pasar pagi. Di tengah taman terdapat sebuah patung yang menggambarkan perjuangan para pejuang di Serang melawan penjajah. Namun, pembuatannya terkesan belum selesai.
Sumardi, mengaku setiap hari memangkalkan truknya di tempat ini sambil menunggu ada orang yang mau menyewanya. "Biasanya truk disewa untuk mengangkut pasir, batu, hasil kebun dan sebagainya," papar pria warga Sumur Pecung ini.
Sumardi yang ditemui seusai membersihkan truknya, setiap hari membayar retribusi sebesar Rp 2.000 kepada dinas ketertiban. "Di sini hampir enam puluhan truk yang mangkal, dan mereka semua membayar retribusi yang sama. Ya kita nurut saja, daripada nggak boleh mangkal disini," ujarnya.
Begitu pun dengan para pengemudi taksi, yang memarkirkan kendaraannya di tempat ini untuk menunggu penumpang. Bahkan para tukang becak sesekali juga terlihat memasuki kawasan ini untuk memandikan becaknya dengan air dari kali yang melintas. Seperti yang dilakukan Syafei, setiap hari menjelang sore ia selalu ke Taman Sari untuk memandikan becaknya karena kotor setelah dari pagi dipakai untuk mengais rezeki.
Sementara musholla yang terdapat di tengah taman, lebih banyak digunakan para pedagang untuk tempat beristirahat dan menikamati tidur siang, layaknya di sebuah penginapan. Sedangkan kali yang membentang melintasi taman seolah menjadi WC terbuka bagi banyak orang untuk membuang hajat atau pun buang air kecil, serta menjadi tempat anak-anak kecil berenang layaknya di kolam renang. Karenanya, tak ayal ketika kita memasuki tempat ini segera tercium bau pesing yang menusuk hidung.
Belum lagi gerobak-gerobak para pedagang yang biasa berjualan pada malam hari, ikut ditaruh di tempat ini. Trotoar yang berada di luar Taman Sari pun tak luput dari para pedagang, seperti pedagang rambutan, kelinci, pecel lele, sate bebek dan beragam pedagang lainnya.
Sore hari tempat ini ramai didatangi warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Ada yang bermain bola, bermain layang-layang, atau hanya untuk sekadar nongkrong. Ada juga orang tua yang sengaja berjalan-jalan sore menikmati kawasan ini sambil membawa anak.
Ironis memang, Taman Sari yang berdiri persis di samping kantor Dinas Ketertiban dan Ketentraman, tapi terlihat begitu tidak terawat. Sangat kotor dan semrawut. Pemerintah dan dinas yang terkait seolah tutup mata terhadap tempat ini. Padahal jika lebih ditata dengan baik, Taman Sari bisa dijadikan ruang publik yang indah, aman, dan nyaman bagi siapa pun.(*)

Sabtu, 23 Februari 2008

Menikmati Musik dengan iPod


iPod adalah merek serangkaian perangkat pemutar media digital yang dirancang dan dijual oleh Apple Computer. Nama "iPod" dahulu merupakan nama salah satu varian pemutar media digital dalam rangkaian tersebut (varian ini kini disebut "iPod classic"). Sebagian besar varian iPod memberikan antarmuka pengguna (user interface) yang sederhana dengan menggunakan disain dalam bentuk roda putar (scroll wheel). iPod classic menyimpan datanya di dalam sebuah hard drive, sementara model lainnya menggunakan flash memory. Seperti sebagian besar perangkat pemain musik lainnya, iPod bisa digunakan sebagai hard drive eksternal bila disambungkan ke sebuah komputer.
Tony Fadell pertama kali mendapat ilham untuk membuat iPod di luar perusahaan Apple Computer. Saat itu ia mengalami kesulitan mencari dana untuk membiayai perangkat pemain musik yang ia ciptakan. Ia lalu menunjukkannya kepada Apple Computer, dan kemudian perusahaan tersebut menyewanya sebagai kontraktor mandiri untuk membuahkan hasil dari projek ini. Ia diberikan tanggung jawab untuk menggalang tim yang akan mengembangkan dua generasi pertama dari perangkat ini. Setelah itu perkembangan iPod yang selanjutnya dilakukan di bawah naungan Jonathan Ive yang merupakan kepala grup disain industri di Apple Computer.
iPod pada awalnya hanya bisa dipakai dengan komputer Macintosh, tetapi pada 17 Juli 2002, Apple Computer mulai menjual iPod versi Windows dengan menggunakan format hard drive FAT32 daripada HFS Plus. [1] Piranti lunak iTunes versi Windows diperkenalkan pada tanggal 16 Oktober 2003 [2]; sebelumnya, pengguna Windows harus bergantung kepada piranti lunak lain seperti Musicmatch Jukebox, ephPod or XPlay untuk mengatur koleksi lagu di dalam iPod mereka.
Generasi terbaru dari iPod dengan dock tidak lagi membedakan antara versi Macintosh dengan Windows. iPod ini secara default dijual dengan hard drive-nya diformat untuk digunakan dengan Macintosh. Pembeli dapat mengubah format tersebut supaya bisa digunakan dengan Windows. Sebuah iPod yang diformat HFS Plus have bisa dipakai dengan Macintosh karena Windows tidak mengenal format HFS Plus. Tetapi karena Macintosh bisa mengenal format FAT32, sebuah iPod yang diformat FAT32 bisa dipakai baik dengan Macintosh atau Windows. Tetapi HFS Plus memberikan sedikit lebih banyak ruang untuk menyimpan lebih banyak data, dan juga membuat iPod bisa dipakai sebagai boot disk untuk komputer Macintosh.
Sampai Oktober 2004, iPod mendominasi penjualan perangkat pemain musik di Amerika Serikat, dengan meraih 92% dari pasaran perangkat hard drive dan lebih dari 65% dari pasaran jenis lainnya. iPod telah berhasil dijual dengan pesat, melebihi sepuluh juta unit dalam tiga tahun terakhir ini. Perangkat tersebut mempunyai pengaruh kebudayaan yang sangat besar di masyarakat bila dibanding dengan saat alat tersebut pertama kali diluncurkan.
iPod generasi kelima diluncurkan pada Oktober 2005 dan kemudian diperbaharui pada September 2006. Generasi iPod kelima mempunyai fitur pemutar video sampai dengan 640 x 480 pixel dan mempunyai daya tahan baterai hingga 24 jam. Para pengguna dapat mengambil video, games dan audiobooks dari iTunes Store. Pada 5 September 2007, Apple meluncurkan iPod generasi keenam (kini dipanggil "iPod classic"), iPod nano generasi ketiga, dan varian baru bernama iPod touch. iPod touch menggunakan layar sentuh yang juga digunakan iPhone.

Piranti lunak
Sebuah iPod generasi kelima.iPod bisa memainkan dokumen dengan format MP3, WAV, AAC/M4A, Protected AAC, AIFF, Audible audiobook, dan Apple Lossless. Alat tersebut tidak bisa memainkan dokumen dengan format OGG Vorbis, FLAC, Windows Media Audio (WMA), atau RealAudio. Apple Computer mungkin tidak akan mendukung format tersebut, karena mereka dianggap sebagai saingan piranti lunak QuickTime yang dikembangkan Apple Computer. Piranti lunak iTunes versi Windows bisa mengubah dokumen WMA menjadi AAC dengan pengecualian pada dokumen yang memiliki copy protection.
Apple mendisain iPod untuk bekerja dengan piranti lunak iTunes, yang memungkinkan penggunanya untuk mengatur koleksi musiknya di komputer dan iPod. iTunes bisa secara langsung menyelaraskan sebuah iPod dengan koleksi lagu tertentu atau dengan seluruh koleksi yang dimiliki penggunanya pada saat iPod tersebut disambung dengan sebuah komputer.
iPod generasi pertama berfungsi khusus hanya sebagi perangkat pemain musik. Pembaharuan firmware selanjutnya menambahkan fungsi PDA: Perangkat tersebut kemudian bisa menyimpan informasi dari buku alamat dan piranti lunak iCal yang ada di dalam Macintosh yang dipakai oleh penggunanya. iPod juga bisa menampilkan dokumen teks walaupun tidak bisa dimanipulasi dengan menggunakan iPod. (adit/pers kampus-wikipedia)

Kamis, 07 Februari 2008

Nyamuk Besi Band

Siapa sich anak muda di Banten yang nggak kenal Nyamuk Besi Band, grup band yang sudah sering manggung di beberapa acara lokal ini ini rasanya sudah nggak asing lagi di dengar. Band yang mengawali kariernya dalam album kompilasi ‘Indie Steel’ pada 2001 silam saat ini sedang menjajaki major label. Nyamuk Besi yang kini di gawangi oleh Tata (vocal+gitar), C-Nay (gitar), Angga (Bass), C-Nyo (drum) mengaku sudah memasuki major label. “Alhamdulillah mulai awal Februari kita akan dikontrak oleh Aquarius Musikindo, yang merupakan major label yang udah kenamaan di Jakarta,” ungkap Tata.
Awal kontraknya dengan Aquarius Tata mengaku ketika pada Desember tahun lalu anak-anak nyamuk besi sengaja datang ke kantor Aquarius, dan membawa beberapa demo lagu. Kita ujar Tata disambut baik disana, dan pihak Aquarius mulai mendengarkan beberapa demo lagui kita. “Beberapa lagu ciptaan kita didengerin disana, mereka suka dengan warna musik yang kita maenin. Alhasil, setelah melalui beberapa perbincangan kita dikontak selama beberaba tahun kedepan oleh Aquarius,” terang Tata yang memiliki nama M. Surya Tria Brata ini. Tapi ketika telah disepakati penandatanganan kontrak, nyamuk besi diminta mengganti nama gruupnya. Sampai ketika di wawancarai RY, nyamuk besi yang pernah juga masuk dalam Kompilasi Jakarta Musik Pop pada Januari 2007 ini, belum mau menyebutkan nama barunya itu. “Kita memang akan ganti nama, dan nama barunya itu merupakan kesepakatan dari semua personil. Kalo nama barunya ada dech!! Kita masih rahasiain, yang pasti berbau-bau nama Banten gitu deh,” pungkas Tata. Tapi dalam waktu dekat, band yang terkenal dengan hits ‘Selamat Tinggal Cinta’ ini bakal menggelar soft launching kontrak barunya dengan Aquarius sekligus album terbaru, yang rencananya akan di gelar di Cilegon.