Kejayaan Masa Lalu dan Kekumuhan Masa Kini
“Pak, Bu, minta sedekahnya!!”
Suara anak kecil tersebut terdengar saat memasuki kawasan Masjid Agung Banten yang terletak di Banten Lama, Kota Serang. Mereka saling berebut minta sedekah kepada peziarah. Tidak hanya itu, peminta-minta setengah baya yang berpakaian lusuh terkadang melantunkan shalawat nabi sambil menyodorkan mangkuk kosong minta sedekah.
***
Aditya Ramadhan – Ruben Hutasoit – Serang
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah, atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi, Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.
Sayangnya, pada zaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC. Seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung
Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiudin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stanford Raffles . Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.
Kini, yang terlihat hanya sisa-sisa bangunan kejayaan masa lalu seperti benteng Spellwijk, reruntuhan keraton Surasowan dan Kaibon yang diluluhlantakan Belanda. Di antara bangunan yang sudah luluhlantah dan tidak terawat itu, masih ada bangunan yang berdiri kokoh yaitu masjid agung Banten dan menara masjid. Hanya itu yang tersisa dari masa kejayaan Banten. Meski begitu, Banten Lama yang dahulu cukup jaya dan disegani kerajaan lainnya di nusantara hingga saat ini mampu memberikan penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Masjid Agung Banten kini jadi tempat berziarah dan rekreasi masyarakat Banten maupun nusantara. Layaknya tempat ziarah dan rekreasi, pasti melibatkan berbagai sektor, di antaranya adalah perdagangan. Namun yang banyak dikeluhkan pengunjung Banten Lama adalah banyaknya pengemis yang berkeliaran. Dari mulai anak-anak sampai kakek-nenek.
Keberadaan Pedagang dan Pengemis
Begitu masuk areal Masjid Agung Banten Lama, yang terlihat pertama kali adalah pedagang kaki lima (K5) yang menyesaki jalan. Mulai dari pedagang makanan, minuman, minyak wangi, perlengkapan salat, sampai tanaman hias. Tidak hanya di luar masjid, di dalam areal masjid pun masih ada pedagang seperti di sekitar tempat wudhu dan WC umum. Pedagang itu berjajar menawarkan perlengkapan salat seperti kopyah, tasbih serta asesories lainnya. Banyak pedagang membuat suasana Banten lama sesak dan kumuh.
Sebenarnya keberadaan mereka sudah sering ditertibkan, baik oleh pengurus masjid ataupun oleh pemerintah. Namun tindakan pemerintah untuk menata pedagang K5 di sekitar Masjid Agung Banten ini kurang signifikan, seperti penataan tempat yang strategis untuk mereka.
“Kami sudah sering menertibkan pedagang mulai dari teguran sampai surat, tapi mereka tidak menggubrisnya dan kembali seperti itu lagi,” ungkap Tb. A Furqon Saefullah, salah seorang pengurus Masjid Agung Banten.
Akibatnya, pedagang semakin makin seenaknya menempatkan dagangannya di areal lokasi wisata tersebut. Seperti yang diutarakan Muhammad Jumni (33), salah satu pedagang. Ia mengaku tidak suka dengan posisi tempat berjualannya yang kebetulan tepat di depan pintu masuk mesjid Agung Banten tersebut. Akan tetapi, karena penataan pemerintah terhadap pedagang di lokasi tersebut dirasa tidak serius dan tanpa musyawarah, akhirnya pedagang berebut tempat strategis untuk berjualan di sekitar mesjid Agung Banten.
Menurutnya, tujuan utama pengunjung datang ke Masjid Agung Banten untuk berziarah, bukan untuk membeli barang yang dijual. Keberadaan pedagang di tempat itu hanya pelengkap. Dengan alasan seperti itu, pedagang memanfaatkannya sebagai tempat berburu rezeki, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena keberadaan pedagang tidak tertata dengan baik, areal Banten Lama pun semakin kumuh. Akses jalan semakin sempit. Jika diperhatikan, pengunjung yang berkunjung ke tempat itu bukannya mendapatkan suasana yang nyaman, malah kebalikannya. Pengunjung merasakan suasana di pasar tradisional yang identik dengan kebisingan dan hiruk pikuk penjual dan pembeli. Seperti yang diungkapkan Yeni, warga Ciputat, Tangerang. Menurutnya, penataan pedagang harus lebih baik dan rapi, agar tercipta suasana yang nyaman bagi pengunjung dan peziarah.
Apalagi pedagang tersebut bukan masyarakat asli Banten Lama. Mereka berasal dari Pontang, Indramayu, dan dari luar Banten lainnya. “Kebanyakan pedagang bukan dari wilayah sini tapi dari luar,” papar Furqon.
Selain dipenuhi pedagang, Banten Lama juga dipenuhi oleh pengemis. Setiap hari, ratusan pengemis dari mulai anak-anak sampai kakek-nenek mencari sedekah di areal Masjid Banten Lama. Akibatnya, Banten Lama semakin terlihat kumuh. Selain kumuh, keberadaan pengemis itu juga membuat pengunjung tidak nyaman. Apalagi pengemis yang masih anak-anak, mereka meminta sedekah dengan cara membuntuti pengunjung hingga masuk ke tempat ziarah.
Tempat Berziarah
Kejayaan nama Banten Lama dengan berbagai latar belakang sejarah menarik banyak orang untuk datang. Ada yang datang hanya sekadar berkunjung untuk melihat bekas peninggalan sejarah, ada juga yang melakukan ziarah dengan maksud yang beragam. Ada yang minta keselamatan dan bermacam-macam lainnya. Seperti yang dilakukan Siti Nur Aisyah (36). Jauh-jauh datang dari Riau ke Banten Lama hanya minta keselamatan bagi keluarganya yang baru melaksanakan syukuran, sunatan, dan kawinan.
Aktivitas yang dilakukan di Banten Lama adalah melakukan ziarah ke beberapa makam yang ada di areal Banten Lama. Salah satunya ziarah ke makam Sultan Maulana Hasanuddin. Di samping itu, mereka juga menyempatkan diri menikmati air zam-zam yang disediakan pengurus masjid. Selain itu, mereka juga menyempatkan diri menunaikan salat di Masjid Agung Banten Lama.
”Baru pertama kali saya berkunjung ke Banten Lama ini. Cuma saya sangat menyayangkan tempat ini tidak ditata dengan baik,” ujarnya.
Pembenahan Masjid
Bangunan masjid semakin tua dan tidak tertata serta terpelihara dengan baik. Akibatnya, Masjid Agung Banten Lama kehilangan ruh kemegahannya. Menurut Furqon, dana untuk memperbaiki bangunan masjid sebenarnya cukup diambil dari kotak infak yang jumlahnya cukup banyak. Sebab, jika dihitung, kotak amal yang ada di Masjid Agung Banten Lama cukup banyak. Di pintu masuk masjid saja ada tiga kotak amal. Belum lagi kotak amal di tiap pintu masuk makam yang akan di ziarahi pengunjung. Sedangkan jumlah pengunjung setiap tahunnya bisa mencapai 7 juta jiwa. “Jika setiap pengunjung menyumbangkan Rp 1000 untuk kotak amal, jumlahnya pasti bisa memenuhi biaya perombakan masjid, namun uang hasil dari kotak amal tersebut tidak jelas dikemanakan atau untuk apa digunakan,” paparnya.
Tapi bagaimanapun keberadaan Banten Lama dengan segala kondisinya memiliki sejarah panjang yang cukup megah. Dan yang lebih penting, masyarakat dapat memelihara agar tidak punah. (*)
Suara anak kecil tersebut terdengar saat memasuki kawasan Masjid Agung Banten yang terletak di Banten Lama, Kota Serang. Mereka saling berebut minta sedekah kepada peziarah. Tidak hanya itu, peminta-minta setengah baya yang berpakaian lusuh terkadang melantunkan shalawat nabi sambil menyodorkan mangkuk kosong minta sedekah.
***
Aditya Ramadhan – Ruben Hutasoit – Serang
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah, atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi, Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.
Sayangnya, pada zaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC. Seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung
Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiudin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stanford Raffles . Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.
Kini, yang terlihat hanya sisa-sisa bangunan kejayaan masa lalu seperti benteng Spellwijk, reruntuhan keraton Surasowan dan Kaibon yang diluluhlantakan Belanda. Di antara bangunan yang sudah luluhlantah dan tidak terawat itu, masih ada bangunan yang berdiri kokoh yaitu masjid agung Banten dan menara masjid. Hanya itu yang tersisa dari masa kejayaan Banten. Meski begitu, Banten Lama yang dahulu cukup jaya dan disegani kerajaan lainnya di nusantara hingga saat ini mampu memberikan penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Masjid Agung Banten kini jadi tempat berziarah dan rekreasi masyarakat Banten maupun nusantara. Layaknya tempat ziarah dan rekreasi, pasti melibatkan berbagai sektor, di antaranya adalah perdagangan. Namun yang banyak dikeluhkan pengunjung Banten Lama adalah banyaknya pengemis yang berkeliaran. Dari mulai anak-anak sampai kakek-nenek.
Keberadaan Pedagang dan Pengemis
Begitu masuk areal Masjid Agung Banten Lama, yang terlihat pertama kali adalah pedagang kaki lima (K5) yang menyesaki jalan. Mulai dari pedagang makanan, minuman, minyak wangi, perlengkapan salat, sampai tanaman hias. Tidak hanya di luar masjid, di dalam areal masjid pun masih ada pedagang seperti di sekitar tempat wudhu dan WC umum. Pedagang itu berjajar menawarkan perlengkapan salat seperti kopyah, tasbih serta asesories lainnya. Banyak pedagang membuat suasana Banten lama sesak dan kumuh.
Sebenarnya keberadaan mereka sudah sering ditertibkan, baik oleh pengurus masjid ataupun oleh pemerintah. Namun tindakan pemerintah untuk menata pedagang K5 di sekitar Masjid Agung Banten ini kurang signifikan, seperti penataan tempat yang strategis untuk mereka.
“Kami sudah sering menertibkan pedagang mulai dari teguran sampai surat, tapi mereka tidak menggubrisnya dan kembali seperti itu lagi,” ungkap Tb. A Furqon Saefullah, salah seorang pengurus Masjid Agung Banten.
Akibatnya, pedagang semakin makin seenaknya menempatkan dagangannya di areal lokasi wisata tersebut. Seperti yang diutarakan Muhammad Jumni (33), salah satu pedagang. Ia mengaku tidak suka dengan posisi tempat berjualannya yang kebetulan tepat di depan pintu masuk mesjid Agung Banten tersebut. Akan tetapi, karena penataan pemerintah terhadap pedagang di lokasi tersebut dirasa tidak serius dan tanpa musyawarah, akhirnya pedagang berebut tempat strategis untuk berjualan di sekitar mesjid Agung Banten.
Menurutnya, tujuan utama pengunjung datang ke Masjid Agung Banten untuk berziarah, bukan untuk membeli barang yang dijual. Keberadaan pedagang di tempat itu hanya pelengkap. Dengan alasan seperti itu, pedagang memanfaatkannya sebagai tempat berburu rezeki, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena keberadaan pedagang tidak tertata dengan baik, areal Banten Lama pun semakin kumuh. Akses jalan semakin sempit. Jika diperhatikan, pengunjung yang berkunjung ke tempat itu bukannya mendapatkan suasana yang nyaman, malah kebalikannya. Pengunjung merasakan suasana di pasar tradisional yang identik dengan kebisingan dan hiruk pikuk penjual dan pembeli. Seperti yang diungkapkan Yeni, warga Ciputat, Tangerang. Menurutnya, penataan pedagang harus lebih baik dan rapi, agar tercipta suasana yang nyaman bagi pengunjung dan peziarah.
Apalagi pedagang tersebut bukan masyarakat asli Banten Lama. Mereka berasal dari Pontang, Indramayu, dan dari luar Banten lainnya. “Kebanyakan pedagang bukan dari wilayah sini tapi dari luar,” papar Furqon.
Selain dipenuhi pedagang, Banten Lama juga dipenuhi oleh pengemis. Setiap hari, ratusan pengemis dari mulai anak-anak sampai kakek-nenek mencari sedekah di areal Masjid Banten Lama. Akibatnya, Banten Lama semakin terlihat kumuh. Selain kumuh, keberadaan pengemis itu juga membuat pengunjung tidak nyaman. Apalagi pengemis yang masih anak-anak, mereka meminta sedekah dengan cara membuntuti pengunjung hingga masuk ke tempat ziarah.
Tempat Berziarah
Kejayaan nama Banten Lama dengan berbagai latar belakang sejarah menarik banyak orang untuk datang. Ada yang datang hanya sekadar berkunjung untuk melihat bekas peninggalan sejarah, ada juga yang melakukan ziarah dengan maksud yang beragam. Ada yang minta keselamatan dan bermacam-macam lainnya. Seperti yang dilakukan Siti Nur Aisyah (36). Jauh-jauh datang dari Riau ke Banten Lama hanya minta keselamatan bagi keluarganya yang baru melaksanakan syukuran, sunatan, dan kawinan.
Aktivitas yang dilakukan di Banten Lama adalah melakukan ziarah ke beberapa makam yang ada di areal Banten Lama. Salah satunya ziarah ke makam Sultan Maulana Hasanuddin. Di samping itu, mereka juga menyempatkan diri menikmati air zam-zam yang disediakan pengurus masjid. Selain itu, mereka juga menyempatkan diri menunaikan salat di Masjid Agung Banten Lama.
”Baru pertama kali saya berkunjung ke Banten Lama ini. Cuma saya sangat menyayangkan tempat ini tidak ditata dengan baik,” ujarnya.
Pembenahan Masjid
Bangunan masjid semakin tua dan tidak tertata serta terpelihara dengan baik. Akibatnya, Masjid Agung Banten Lama kehilangan ruh kemegahannya. Menurut Furqon, dana untuk memperbaiki bangunan masjid sebenarnya cukup diambil dari kotak infak yang jumlahnya cukup banyak. Sebab, jika dihitung, kotak amal yang ada di Masjid Agung Banten Lama cukup banyak. Di pintu masuk masjid saja ada tiga kotak amal. Belum lagi kotak amal di tiap pintu masuk makam yang akan di ziarahi pengunjung. Sedangkan jumlah pengunjung setiap tahunnya bisa mencapai 7 juta jiwa. “Jika setiap pengunjung menyumbangkan Rp 1000 untuk kotak amal, jumlahnya pasti bisa memenuhi biaya perombakan masjid, namun uang hasil dari kotak amal tersebut tidak jelas dikemanakan atau untuk apa digunakan,” paparnya.
Tapi bagaimanapun keberadaan Banten Lama dengan segala kondisinya memiliki sejarah panjang yang cukup megah. Dan yang lebih penting, masyarakat dapat memelihara agar tidak punah. (*)



